Sebuah goresan hati
1. teman-teman SMA
Duduk sambil menikmati cahaya rembulan malam sungguh indah sembari menenangkan pikiran yang menguras tenaga menutup lembaran lama yang memilukan menuju hari esok yang ceria.Mudah-mudahan ketika ku terbangun mentari menampakkan sinarnya seolah-olah menyambut indahnya hari. Sapa teman-teman berseragam membuat semuanya terlewatkan tanpa beban, canda dan tawa terukir manis di bibir ini seakan ada kerinduan yang tak ingin berpisah lama. Telah banyak hal-hal yang terlewatkan membuat rasa kebersamaan timbul dan ingin selalu menjaga, melindungi, menasehati, menyayangi dan mengasihi satu sama lain.
2. Kekasih
Dia adalah orang yang pernah mengisi ruang hatiku yang mengajariku tentang arti cinta tapi entah apa yang buat kata-kata manisnya yang sering diucapkan untukku kini berubah menjadi Kata yang merobek hati ini. Aku tak tau apa yang telah ku perbuat hingga dia begitu tega padaku. Aku yang tak sanggup ingin memutuskan mengakhiri kisah ini tetapi hati bertolak belakang dengan ego hingga pikiran merasuki jiwa dan raga membuat sebuah keputusan yang tak bisa di toleransi. Kini hati hanya bisa merindukannya, mata hanya bisa meliriknya, dan telinga hanya bisa mendengarnya, berat bibir untuk menyapanya meskipun hasrat ini tak tertahankan lagi apalah daya gengsi dan ego bersatu melawan hasrat di dada membuat semuanya musnah dalam tangisan hati yang bertambah kian merekah membelai perihnya hati hanya kepada angin aku memohon dan pada mentari aku memberi isyarat agar dapat menggantikan ku memberi senyum semangat padanya dalam melakukan aktifitas pagi yang indah.
Untuk yang terkasih bahasa tubuh mungkin tak bersahabat tapi sesungguhnya hati ini sangat merindukanmu seseorang yang tak tergantikan dalam hati ini dan terima kasih yang telah kau berikan padaku.
3. Perginya sahabat sejati
Kau menjelma layaknya pangeran bertahta, dan berwibawa membelenggu aku dengan kehangatan mu memberi kasih sebening embun, kini tinggal potret wajahmu membawaku ke dalam perjalanan hidup, kepada bulan aku meronta, kepada bintang aku memberi isyarat seolah kau berada didekat ku mengisahkan masa lampau saat aku tersadar dari lamunanku, ku pandangi goresan tinta yang kau tinggalkan. Dalam sehelai kertas kau berduka, kau sekeras batu, membuat semuanya indah tapi kau tak ikut merasakannya, kau tega menganggap kami semua adalah hiasan.
4. suaramu
Lantunan lagu dan puisi-puisi lama telah terdengar syahdu dan merdu di telingaku, tembang - tembang para penyair dan cerita manisnya tak aku hiraukan lagi di kala kau berbicara aku seperti terhipnotis oleh suaramu yang lembut dan menyentuh. Bibir manis mu yang mengeluarkan seuntai kata itu telah ku perhatikan tanpa jeranya, inilah rasa yang aku rasakan betapa sejuk dan nikmatnya. Di kala senja datang aku terduduk, termenung, melihatnya seakan kau hadir di dekat senja itu membuatku semakin larut dalam lamunanku, di tambah suara angin yang lembut membuatnya tampak sempurna. Apakah itu akan selalu ada?
Komentar
Posting Komentar